PTM di Kota Mojokerto Dimulai DPRD dan Walikota Mojokerto Kompak Sidak PTM
Hari pertama Pembelajaran Tatap Muka (PTM), Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari dan Ketua DPRD kota Mojokerto bersama rombongan komisi III Kota Mojokerto kompak menggelar sidak ke sejumlah pendidikan SD dan SMP, di antaranya, SDN Gedongan 1, SDN Gedongan 3, SD Katolik Wijana Sejati, SMPN 2 Kota Mojokerto dan SMPN 8 Kota Mojokerto.
Pada saat sidak Ketua DPRD Kota Mojokerto Sunarto bersama Ketua Komisi III, Agus Wahyudi Utomo yang diikuti anggota lainnya yakni Deny Novianto, Mulyadi, Gunawan, Budiarto, Choiroyaroh, dan Ery Purwanti. Dengan di dampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Amin Wachid, Camat Magersari, Lurah Gedongan, dan Kepala Sekolah.
Peserta sidak banyak berinteraksi dengan guru dan siswa. Para siswa mengaku senang bisa sekolah kembali meski harus mematuhi prokes. Mereka meminta supaya jangan pembelajaran daring lagi. Kendati demikian, siswa-siswi ini merasa agak kesulitan dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) penggunaan masker 3 lapis dan face shild. Sebab, penggunaan masker dan penutup wajah transparan (Faceshield), menjadi salah satu syarat wajib dalam pemberlakukan PTM di lingkungan sekolah yang ada di seluruh wilayah Kota Mojokerto. Wali Kota mengaku senang karena PTM dilaksanakan dengan mematuhi prokes yang ketat. PTM kali ini akan dilaksanakan selama enam minggu hingga liburan sekolah pada awal Ramadhan. Senada dengan Walikota, Ketua Komisi III DPRD Kota Mojokerto Agus Wahjudi Utomo juga mengaku senang karena PTM dapat dilaksanakan kembali meski dengan menerapkan prokes yang ketat. Total terdapat 63 SD dan 19 SMP Negeri maupun swasta yang melaksanakan PTM secara serentak. Semua sekolah diwajibkan mematuhi protokol kesehatan dan aturan yang ditetapkan Pemkot Mojokerto sesuai Perwali Nomor 55 Tahun 2020. Setiap PTM di ruang kelas hanya boleh di isi maksimal 50 persen saja sehingga otomatis sisa 50 persen harus dilakukan pembelajaran pada versi yang berbeda (Daring). PTM dibagi menjadi dua sesi, setiap sesi dijadwalkan masuk di jam dan hari yang berbeda. Antara sesi 1 dan sesi 2 tidak dipertemukan agar tidak terjadi kerumunan.





